Kisah ini menceritakan tentang persahabatan Toni dan Roni. Persahabatan mereka dimulai ketika mereka menduduki bangku SD, mereka merupakan teman sebangku yang paling kompak di kelas. Kekompakan ini semakin erat ketika mereka beranjak dewasa, sekolah SMP, SMA dan perguruan tinggi yang sama hingga akhirnya mereka terpisah karena perbedaan profesi. Namun hal ini tidak merubah eratnya persahabatan mereka, walaupun keadaan ekonomi, dan latar belakang yang berbeda. Roni adalah anak tunggal dari keluarga yang cukup berada dengan didikan agama yang baik, ia sudah terbiasa berdoa dan sering mengucap syukur pada Tuhan. Lain halnya dengan Toni, ia anak dari keluarga kurang mampu dan jarang sekali berdoa, ia sangat kritis dalam menilai sesuatu sehingga ia tidak percaya akan keberadaan Tuhan.
Suatu saat ketika liburan, mereka berencana berlibur dan menghabiskan waktu bersama dengan pergi ke suatu daerah di pelosok untuk mempelajari kebudayaan daerah tersebut. Mereka berangkat dengan menggunakan mobil dan menempuh jarak yang cukup jauh, tetapi karena jalan untuk mencapai daerah tersebut sangat kecil dan tidak cukup untuk dilalui mobil, maka mereka berhenti sejenak dan meminjam motor warga sekitar untuk melanjutkan perjalanan. Setelah mendapat pinjaman motor, merka pun melanjutkan perjalanan. Toni yang tidak percaya akan kehadiran Tuhan pun berkata. 'mana Tuhan yang selama ini kau banggakan Ron? Kalau Dia ada, tidak mungkin Dia akan membuat kita susah seperti ini..' . Roni yang mendengar hal itu hanya diam dan tersenyum pada Toni, mereka pun tetap melanjutkan perjalanan mereka. Namun tak lama kemudian, mereka melewati jalan yang cukup curam sehingga mereka terpaksa melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.
Perjalanan tersebut tidak berlangsung lama karena hari mulai gelap, mereka bingung untuk mencari tempat menginap. Akhirnya mereka memutuskan untuk mencoba mencari tumpangan di pemukiman terdekat. Daerah tersebut dapat dibilang sedikit lebih maju dari daerah pelosok kebanyakan, namun warga daerah tersebut sangat tertutup dan melarang menerima warga asing yang akan menginap, sehingga Toni dan Roni tidak dapat menginap disana.
Toni yang merasa sangat lelah dan kesal akan penolakan warga tersebut pun menumpahkan kekesalannya pada Roni, 'Hai Ron, dimanakah Tuhanmu itu? Tak seharusnya kau percaya pada-Nya, buktinya saja Dia tak pernah menolong kita saat kita susah seperti ini' Roni segera berkata pada Toni dengan tenang, 'Tunggu sajalah, Tuhan pasti memberikan yang tebaik untuk kita berdua malam ini. Ayo kita jalan saja dulu, lihat disana ada sebuah pohon, mari kita buat rumah diatas pohon tersebut agar kita dapat tidur malam ini.'
Toni yang melihat Roni tetap tenang, menjadi semakin kesal. Dengan setengah hati, dia pun membantu Roni membuat rumah pohon. Malam itu mereka bermalam di rumah pohon tersebut dengan penerangan sebuah obor yang mereka punya. Sebelum mereka tidur, Roni mengajak Toni untuk berdoa terlebih dahulu, tapi dengan kesal Toni menolaknya dan pergi tidut.
Saat tengah malam, terdengarlah bunyi rombongan orang" berkuda dari kejauhan menuju arah Roni dan Toni, angin pun bertiup kencang hingga memadamkan obor milik mereka. Hal tersebut membuat mereka terbangun dan mencoba melihat keadaan, namun kegelapan malam membuat mereka tidak dapat melihat apapun. Toni kembali mendengus kesal, 'alah percuma saja kau berdoa sebelum tidur, toh Tuhan juga tidak menjaga kita malam ini' Roni pun menjawab, 'sabarlah dulu..Tuhan pasti tetap menjaga kita walau dalam kegelapan' Mereka pun melanjutkan tidur mereka.
Keesokan harinya, mereka bangun ketika hari sudah siang. Mereka segera bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan, namun sebelum itu mereka berencana untuk meminta persediaan makanan pada pemukiman yang kemarin menolak mereka. Ketika mereka sampai ke daerah tersebut, tampaklah daerah yang sudah porak poranda, warga yang sepi dan beberapa terluka serta rumah yang sudah roboh. Toni dan Roni tampak kaget dan bingung melihat keadaan ini. Mereka pun bertanya pada seorang nenek yang tengah mengobati cucunya, nenek itu mengatakan bahwa semalam datang rombongan perampok yang mencuri seluruh harta warga setempat dan membunuh mereka tanpa terkecuali. Roni sangat kaget mendengarnya dan berkata pada sahabatnya, 'Ton, itulan tandanya Tuhan memberikan yang terbaik untuk kita semalam tadi, jika kita mendapat penginapan disini pastinya kita sudah mati.' Toni masih saja bersikeras, ia menanggap itu hanya kebetulan belaka, Roni pun hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat sikap sahabatnya itu. Ia pun bertanya lagi pada nenek itu. 'Nek, apa perampok itu menggunakan kuda?' dan nenek itu mengangguk.
Sekali lagi Roni kaget dan benar-benar bersyukur, ia berkata kembali pada Toni, 'Untung saja tadi malam angin memadamkan obor kita, kalu tidak pasti perampok itu melihat keberadaan kita dan merampok kita. Tuhan sungguh telah menjaga kita Ton'
Sejak saat itu, Toni pun tersadar dan tidak banyak mengeluh dalam melanjutkan perjalanan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar