Sabtu, 13 November 2010
Nothing Hurts Like Love ..
Dimensi lainnya adalah pengorbanan. Bila seseorang berani mengenal cinta, dia harus berani berkorban pula. Dimana dia akhirnya menemukan bahwa bersama manisnya cinta, hadir pula kegetiran ataupun rasa sakit. Dimensi cinta yang lain adalah bahwa cinta membawa perubahan. Seseorang yang membiarkan cinta mengisi hatinya harus siap menghadapi perubahan. Yang baik bisa berubah buruk atau sebaliknya. Cinta juga dapat mengubah seseorang untuk berani melepas masa lalunya.
Dimensi dalam cinta yang paling ditakutkan adalah kehilangan. Bayangkan bilamana kita benar-benar telah merasa nyaman bersama seseorang yang kita cintai lalu pada suatu ketika kita harus bisa menghadapi kenyataan bahwa orang lain itu harus pergi dari kehidupan kita, walaupun bukan pergi untuk selamanya naun tetap saja menyakitkan. Kita harus menghadapi cinta apapun keadaannya. Kamu baru bisa merasakan cinta yang sesungguhnya kalau kamu sudah merasakan sakit.
Jumat, 13 Agustus 2010
Toni dan Roni
Suatu saat ketika liburan, mereka berencana berlibur dan menghabiskan waktu bersama dengan pergi ke suatu daerah di pelosok untuk mempelajari kebudayaan daerah tersebut. Mereka berangkat dengan menggunakan mobil dan menempuh jarak yang cukup jauh, tetapi karena jalan untuk mencapai daerah tersebut sangat kecil dan tidak cukup untuk dilalui mobil, maka mereka berhenti sejenak dan meminjam motor warga sekitar untuk melanjutkan perjalanan. Setelah mendapat pinjaman motor, merka pun melanjutkan perjalanan. Toni yang tidak percaya akan kehadiran Tuhan pun berkata. 'mana Tuhan yang selama ini kau banggakan Ron? Kalau Dia ada, tidak mungkin Dia akan membuat kita susah seperti ini..' . Roni yang mendengar hal itu hanya diam dan tersenyum pada Toni, mereka pun tetap melanjutkan perjalanan mereka. Namun tak lama kemudian, mereka melewati jalan yang cukup curam sehingga mereka terpaksa melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.
Perjalanan tersebut tidak berlangsung lama karena hari mulai gelap, mereka bingung untuk mencari tempat menginap. Akhirnya mereka memutuskan untuk mencoba mencari tumpangan di pemukiman terdekat. Daerah tersebut dapat dibilang sedikit lebih maju dari daerah pelosok kebanyakan, namun warga daerah tersebut sangat tertutup dan melarang menerima warga asing yang akan menginap, sehingga Toni dan Roni tidak dapat menginap disana.
Toni yang merasa sangat lelah dan kesal akan penolakan warga tersebut pun menumpahkan kekesalannya pada Roni, 'Hai Ron, dimanakah Tuhanmu itu? Tak seharusnya kau percaya pada-Nya, buktinya saja Dia tak pernah menolong kita saat kita susah seperti ini' Roni segera berkata pada Toni dengan tenang, 'Tunggu sajalah, Tuhan pasti memberikan yang tebaik untuk kita berdua malam ini. Ayo kita jalan saja dulu, lihat disana ada sebuah pohon, mari kita buat rumah diatas pohon tersebut agar kita dapat tidur malam ini.'
Toni yang melihat Roni tetap tenang, menjadi semakin kesal. Dengan setengah hati, dia pun membantu Roni membuat rumah pohon. Malam itu mereka bermalam di rumah pohon tersebut dengan penerangan sebuah obor yang mereka punya. Sebelum mereka tidur, Roni mengajak Toni untuk berdoa terlebih dahulu, tapi dengan kesal Toni menolaknya dan pergi tidut.
Saat tengah malam, terdengarlah bunyi rombongan orang" berkuda dari kejauhan menuju arah Roni dan Toni, angin pun bertiup kencang hingga memadamkan obor milik mereka. Hal tersebut membuat mereka terbangun dan mencoba melihat keadaan, namun kegelapan malam membuat mereka tidak dapat melihat apapun. Toni kembali mendengus kesal, 'alah percuma saja kau berdoa sebelum tidur, toh Tuhan juga tidak menjaga kita malam ini' Roni pun menjawab, 'sabarlah dulu..Tuhan pasti tetap menjaga kita walau dalam kegelapan' Mereka pun melanjutkan tidur mereka.
Keesokan harinya, mereka bangun ketika hari sudah siang. Mereka segera bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan, namun sebelum itu mereka berencana untuk meminta persediaan makanan pada pemukiman yang kemarin menolak mereka. Ketika mereka sampai ke daerah tersebut, tampaklah daerah yang sudah porak poranda, warga yang sepi dan beberapa terluka serta rumah yang sudah roboh. Toni dan Roni tampak kaget dan bingung melihat keadaan ini. Mereka pun bertanya pada seorang nenek yang tengah mengobati cucunya, nenek itu mengatakan bahwa semalam datang rombongan perampok yang mencuri seluruh harta warga setempat dan membunuh mereka tanpa terkecuali. Roni sangat kaget mendengarnya dan berkata pada sahabatnya, 'Ton, itulan tandanya Tuhan memberikan yang terbaik untuk kita semalam tadi, jika kita mendapat penginapan disini pastinya kita sudah mati.' Toni masih saja bersikeras, ia menanggap itu hanya kebetulan belaka, Roni pun hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat sikap sahabatnya itu. Ia pun bertanya lagi pada nenek itu. 'Nek, apa perampok itu menggunakan kuda?' dan nenek itu mengangguk.
Sekali lagi Roni kaget dan benar-benar bersyukur, ia berkata kembali pada Toni, 'Untung saja tadi malam angin memadamkan obor kita, kalu tidak pasti perampok itu melihat keberadaan kita dan merampok kita. Tuhan sungguh telah menjaga kita Ton'
Sejak saat itu, Toni pun tersadar dan tidak banyak mengeluh dalam melanjutkan perjalanan.
Jumat, 06 Agustus 2010
Just The Way You Are..
You never let me down before
Don't imagine you're too familiar
And I don't see you anymore
I would not leave you in times of trouble
We never could have come this far
I took the good times, I'll take the bad times
I'll take you just the way you are
Don't go trying some new fashion
Don't change the color of your hair
You always have my unspoken passion
Although I might not seem to care
I don't want clever conversation
I never want to work that hard
I just want someone that I can talk to
I want you just the way you are.
I need to know that you will always be
The same old someone that I knew
What will it take till you believe in me
The way that I believe in you.
I said I love you and that's forever
And this I promise from the heart
I could not love you any better
I love you just the way you are
I don't want clever conversation
I never want to work that hard
I just want someone that I can talk to
I want you just the way you are.
*buat dia yang masih sabar hadapin ajeng wlpn skrg udh bosen juga,,
maaf aku egois, ga pernah ngerti kamu..
aku cuma pengen kamu tau, sebenrnya ak berubah karna sakit hati sama katakata kamu..
mungkin kamu ga sadar sama yang kamu omongin, tp itu slalu ak inget..
mungkin kalo ak gini, kita makin sering brantem..ya mungkin mulai sekarang ak blajar nerima dan lupain omongan kamu..
i'll try to love you just the way you are..
Jumat, 09 Juli 2010
Close
It's funny to me
How far you are but now
Near you seem to be
I could talk all night
Just to hear you breathe
I could spend my life
Just living this dream
You're all I'll ever need
You give me strength
You give me hope
You give me someone to love someone to hold
When I'm in your arms
I need you to know
I've never been
I've never been this close
With all the lovers
I used to know
I kept my distance I never let go
But I your arms i know I'm safe
'Cause I've never been held
And I've never been kissed in this way
You're all I'll ever need
You're all I'll ever need
Close enough to see it's true
Close enought to trust in you
Closer now than any words can say
And when, when I'm in your arms,
I need you to know I've never been
I've never been this close
You give me strength
You give me hope
You give me someone to love someone to hold
When I'm in your arms
I need you to know
I've never been
I've never been
I've never been
I've never been this close
Setan ?? Malaikat ??
Mahluk yang paling menakjubkan adalah manusia, karena dia bisa memilih untuk menjadi “setan atau malaikat”.
-John Scheffer-
Dari pinggir kaca nako, di antara celah kain gorden, saya melihat lelaki itu mondar-mandir di depan rumah. Matanya berkali-kali melihat ke rumah saya. Tangannya yang dimasukkan ke saku celana, sesekali mengelap keringat di keningnya.
Dada saya berdebar menyaksikannya. Apa maksud remaja yang bisa jadi umurnya tak jauh dengan anak sulung saya yang baru kelas 2 SMU itu? Melihat tingkah lakunya yang gelisah, tidakkah dia punya maksud buruk dengan keluarga saya? Mau merampok? Bukankah sekarang ini orang merampok tidak lagi mengenal waktu? Siang hari saat orang-orang lalu-lalang pun penodong bisa beraksi, seperti yang banyak diberitakan koran. Atau dia punya masalah dengan Yudi, anak saya?
Kenakalan remaja saat ini tidak lagi enteng. Tawuran telah menjadikan puluhan remaja meninggal. Saya berdoa semoga lamunan itu salah semua. Tapi mengingat peristiwa buruk itu bisa saja terjadi, saya mengunci seluruh pintu dan jendela rumah. Di rumah ini, pukul sepuluh pagi seperti ini, saya hanya seorang diri. Kang Yayan, suami saya, ke kantor. Yudi sekolah, Yuni yang sekolah sore pergi les Inggris, dan Bi Nia sudah seminggu tidak masuk.
Jadi kalau lelaki yang selalu memperhatikan rumah saya itu menodong, saya bisa apa? Pintu pagar rumah memang terbuka. Siapa saja bisa masuk.
Tapi mengapa anak muda itu tidak juga masuk? Tidakkah dia menunggu sampai tidak ada orang yang memergoki? Saya sedikit lega saat anak muda itu berdiri di samping tiang telepon. Saya punya pikiran lain. Mungkin dia sedang menunggu seseorang, pacarnya, temannya, adiknya, atau siapa saja yang janjian untuk bertemu di tiang telepon itu. Saya memang tidak mesti berburuk sangka seperti tadi. Tapi dizaman ini, dengan peristiwa-peristiwa buruk, tenggang rasa yang semakin menghilang, tidakkah rasa curiga lebih baik daripada lengah?
Saya masih tidak beranjak dari persembunyian, di antara kain gorden, di samping kaca nako. Saya masih was-was karena anak muda itu sesekali masih melihat ke rumah. Apa maksudnya? Ah, bukankah banyak pertanyaan di dunia ini yang tidak ada jawabannya.
Terlintas di pikiran saya untuk menelepon tetangga. Tapi saya takut jadi ramai. Bisa-bisa penduduk se-kompleks mendatangi anak muda itu. Iya kalau anak itu ditanya-tanya secara baik, coba kalau belum apa-apa ada yang memukul.
Tiba-tiba anak muda itu membalikkan badan dan masuk ke halaman rumah. Debaran jantung saya mengencang kembali. Saya memang mengidap penyakit jantung. Tekad saya untuk menelepon tetangga sudah bulat, tapi kaki saya tidak bisa melangkah. Apalagi begitu anak muda itu mendekat, saya ingat, saya pernah melihatnya dan punya pengalaman buruk dengannya. Tapi anak muda itu tidak lama di teras rumah. Dia hanya memasukkan sesuatu ke celah di atas pintu dan bergegas pergi. Saya masih belum bisa mengambil benda itu karena kaki saya masih lemas.
Saya pernah melihat anak muda yang gelisah itu di jembatan penyeberangan, entah seminggu atau dua minggu yang lalu. Saya pulang membeli bumbu kue waktu itu. Tiba-tiba di atas jembatan penyeberangan, saya ada yang menabrak, saya hampir jatuh. Si penabrak yang tidak lain adalah anak muda yang gelisah dan mondar-mandir di depan rumah itu, meminta maaf dan bergegas mendahului saya. Saya jengkel, apalagi begitu sampai di rumah saya tahu dompet yang disimpan di kantong plastik, disatukan dengan bumbu kue, telah raib.
Dan hari ini, lelaki yang gelisah dan si penabrak yang mencopet itu, mengembalikan dompet saya lewat celah di atas pintu. Setelah saya periksa, uang tiga ratus ribu lebih, cincin emas yang selalu saya simpan di dompet bila bepergian, dan surat-surat penting, tidak ada yang berkurang.
Lama saya melihat dompet itu dan melamun. Seperti dalam dongeng. Seorang anak muda yang gelisah, yang siapa pun saya pikir akan mencurigainya, dalam situasi perekonomian yang morat-marit seperti ini, mengembalikan uang yang telah digenggamnya. Bukankah itu ajaib, seperti dalam dongeng. Atau hidup ini memang tak lebih dari sebuah dongengan?
Bersama dompet yang dimasukkan ke kantong plastik hitam itu saya menemukan surat yang dilipat tidak rapi. Saya baca surat yang berhari-hari kemudian tidak lepas dari pikiran dan hati saya itu. Isinya seperti ini:
—–
“Ibu yang baik…, maafkan saya telah mengambil dompet Ibu. Tadinya saya mau mengembalikan dompet Ibu saja, tapi saya tidak punya tempat untuk mengadu, maka saya tulis surat ini, semoga Ibu mau membacanya.
Sudah tiga bulan saya berhenti sekolah. Bapak saya di-PHK dan tidak mampu membayar uang SPP yang berbulan-bulan sudah nunggak, membeli alat-alat sekolah dan memberi ongkos. Karena kemampuan keluarga yang minim itu saya berpikir tidak apa-apa saya sekolah sampai kelas 2 STM saja. Tapi yang membuat saya sakit hati, Bapak kemudian sering mabuk dan judi buntut yang beredar sembunyi-sembunyi itu.
Adik saya yang tiga orang, semuanya keluar sekolah. Emak berjualan goreng-gorengan yang dititipkan di warung-warung. Adik-adik saya membantu mengantarkannya. Saya berjualan koran, membantu-bantu untuk beli beras.
Saya sadar, kalau keadaan seperti ini, saya harus berjuang lebih keras. Saya mau melakukannya. Dari pagi sampai malam saya bekerja. Tidak saja jualan koran, saya juga membantu nyuci piring di warung nasi dan kadang (sambil hiburan) saya ngamen. Tapi uang yang pas-pasan itu (Emak sering gagal belajar menabung dan saya maklum), masih juga diminta Bapak untuk memasang judi kupon gelap. Bilangnya nanti juga diganti kalau angka tebakannya tepat. Selama ini belum pernah tebakan Bapak tepat. Lagi pula Emak yang taat beribadah itu tidak akan mau menerima uang dari hasil judi, saya yakin itu.
Ketika Bapak semakin sering meminta uang kepada Emak, kadang sambil marah-marah dan memukul, saya tidak kuat untuk diam. Saya mengusir Bapak. Dan begitu Bapak memukul, saya membalasnya sampai Bapak terjatuh-jatuh. Emak memarahi saya sebagai anak laknat. Saya sakit hati. Saya bingung. Mesti bagaimana saya?
Saat Emak sakit dan Bapak semakin menjadi dengan judi buntutnya, sakit hati saya semakin menggumpal, tapi saya tidak tahu sakit hati oleh siapa. Hanya untuk membawa Emak ke dokter saja saya tidak sanggup. Bapak yang semakin sering tidur entah di mana, tidak perduli. Hampir saya memukulnya lagi.
Di jalan, saat saya jualan koran, saya sering merasa punya dendam yang besar tapi tidak tahu dendam oleh siapa dan karena apa. Emak tidak bisa ke dokter. Tapi orang lain bisa dengan mobil mewah melenggang begitu saja di depan saya, sesekali bertelepon dengan handphone. Dan di seberang stopan itu, di warung jajan bertingkat, orang-orang mengeluarkan ratusan ribu untuk sekali makan.
Maka tekad saya, Emak harus ke dokter. Karena dari jualan koran tidak cukup, saya merencanakan untuk mencopet. Berhari-hari saya mengikuti bus kota, tapi saya tidak pernah berani menggerayangi saku orang. Keringat dingin malah membasahi baju. Saya gagal jadi pencopet.
Dan begitu saya melihat orang-orang belanja di toko, saya melihat Ibu memasukkan dompet ke kantong plastik. Maka saya ikuti Ibu. Di atas jembatan penyeberangan, saya pura-pura menabrak Ibu dan cepat mengambil dompet. Saya gembira ketika mendapatkan uang 300 ribu lebih.
Saya segera mendatangi Emak dan mengajaknya ke dokter. Tapi Ibu…, Emak malah menatap saya tajam. Dia menanyakan, dari mana saya dapat uang. Saya sebenarnya ingin mengatakan bahwa itu tabungan saya, atau meminjam dari teman. Tapi saya tidak bisa berbohong. Saya mengatakan sejujurnya, Emak mengalihkan pandangannya begitu saya selesai bercerita.
Di pipi keriputnya mengalir butir-butir air. Emak menangis. Ibu…, tidak pernah saya merasakan kebingungan seperti ini. Saya ingin berteriak. Sekeras-kerasnya. Sepuas-puasnya. Dengan uang 300 ribu lebih sebenarnya saya bisa makan-makan, mabuk, hura-hura. Tidak apa saya jadi pencuri. Tidak perduli dengan Ibu, dengan orang-orang yang kehilangan. Karena orang-orang pun tidak perduli kepada saya. Tapi saya tidak bisa melakukannya. Saya harus mengembalikan dompet Ibu. Maaf.”
—–
Surat tanpa tanda tangan itu berulang kali saya baca. Berhari-hari saya mencari-cari anak muda yang bingung dan gelisah itu. Di setiap stopan tempat puluhan anak-anak berdagang dan mengamen. Dalam bus-bus kota. Di taman-taman. Tapi anak muda itu tidak pernah kelihatan lagi. Siapapun yang berada di stopan, tidak mengenal anak muda itu ketika saya menanyakannya.
Lelah mencari, di bawah pohon rindang, saya membaca dan membaca lagi surat dari pencopet itu. Surat sederhana itu membuat saya tidak tenang. Ada sesuatu yang mempengaruhi pikiran dan perasaan saya. Saya tidak lagi silau dengan segala kemewahan. Ketika Kang Yayan membawa hadiah-hadiah istimewa sepulang kunjungannya ke luar kota, saya tidak segembira biasanya.Saya malah mengusulkan oleh-oleh yang biasa saja.
Kang Yayan dan kedua anak saya mungkin aneh dengan sikap saya akhir-akhir ini. Tapi mau bagaimana, hati saya tidak bisa lagi menikmati kemewahan. Tidak ada lagi keinginan saya untuk makan di tempat-tempat yang harganya ratusan ribu sekali makan, baju-baju merk terkenal seharga jutaan, dan sebagainya.
Saya menolaknya meski Kang Yayan bilang tidak apa sekali-sekali. Saat saya ulang tahun, Kang Yayan menawarkan untuk merayakan di mana saja. Tapi saya ingin memasak di rumah, membuat makanan, dengan tangan saya sendiri. Dan siangnya, dengan dibantu Bi Nia, lebih seratus bungkus nasi saya bikin. Diantar Kang Yayan dan kedua anak saya, nasi-nasi bungkus dibagikan kepada para pengemis, para pedagang asongan dan pengamen yang banyak di setiap stopan.
Di stopan terakhir yang kami kunjungi, saya mengajak Kang Yayan dan kedua anak saya untuk makan bersama. Diam-diam air mata mengalir dimata saya.
Yuni menghampiri saya dan bilang, “Mama, saya bangga jadi anak Mama.” Dan saya ingin menjadi Mama bagi ribuan anak-anak lainnya.
Cangkir yang Cantik ..
Saat mereka mendekati cangkir itu, tiba-tiba cangkir yang dimaksud berbicara “Terima kasih untuk perhatiannya, perlu diketahui bahwa aku dulunya tidak cantik. Sebelum menjadi cangkir yang dikagumi, aku hanyalah seonggok tanah liat yang tidak berguna. Namun suatu hari ada seorang pengrajin dengan tangan kotor melempar aku ke sebuah roda berputar.
Kemudian ia mulai memutar-mutar aku hingga aku merasa pusing. Stop ! Stop ! Aku berteriak, Tetapi orang itu berkata “belum !” lalu ia mulai menyodok dan meninjuku berulang-ulang. Stop! Stop ! teriakku lagi. Tapi orang ini masih saja meninjuku, tanpa menghiraukan teriakanku. Bahkan lebih buruk lagi ia memasukkan aku ke dalam perapian. Panas ! Panas ! Teriakku dengan keras. Stop ! Cukup ! Teriakku lagi. Tapi orang ini berkata “belum !”
Akhirnya ia mengangkat aku dari perapian itu dan membiarkan aku sampai dingin. Aku pikir, selesailah penderitaanku. Oh ternyata belum. Setelah dingin aku diberikan kepada seorang wanita muda dan dan ia mulai mewarnai aku. Asapnya begitu memualkan. Stop ! Stop ! Aku berteriak.
Wanita itu berkata “belum !” Lalu ia memberikan aku kepada seorang pria dan ia memasukkan aku lagi ke perapian yang lebih panas dari sebelumnya! Tolong ! Hentikan penyiksaan ini ! Sambil menangis aku berteriak sekuat-kuatnya. Tapi orang ini tidak peduli dengan teriakanku.Ia terus membakarku. Setelah puas “menyiksaku” kini aku dibiarkan dingin.
Setelah benar-benar dingin, seorang wanita cantik mengangkatku dan menempatkan aku dekat kaca. Aku melihat diriku. Aku terkejut sekali. Aku hampir tidak percaya, karena di hadapanku berdiri sebuah cangkir yang begitu cantik. Semua kesakitan dan penderitaanku yang lalu menjadi sirna tatkala kulihat diriku.
Rabu, 07 Juli 2010
Beberapa Fakta Tentang "WANITA"
itu bukan berarti dia sedang mengeluarkan senjata terampuhnya..
melainkan justru berarti dia sedang mengeluarkan senjata terakhirnya..
Ketika wanita menangis..
itu bukan berarti dia tidak berusaha menahannya..
melainkan karena pertahanannya sudah tak mampu lagi membendung air matanya..
Ketika wanita menangis..
itu bukan karena dia ingin terlihat lemah..
melainkan karena dia sudah tidak sanggup berpura - pura kuat..
Nothing Gonna Change My Love for You ..
If I had to live my life without you near me
The days would all be empty
The nights would seem so long
With you I see forever oh so clearly
I might have been in love before
But it never felt this strong
Our dreams are young and we both know
They’ll take us where we want to go
Hold me now, touch me now
I don’t want to live without you
Nothing’s gonna change my love for you
You ought to know by now how much I love you
One thing you can be sure of
I’ll never ask for more than your love
Nothing’s gonna change my love for you
You ought to know by now how much I love you
The world may change my whole life through
But nothing’s gonna change my love for you
If the road ahead is not so easy
Our love will lead the way for us
Like a guiding star
I’ll be there for you if you should need me
You don’t have to change a thing
I love you just the way you are
So come with me and share the view
I’ll help you see forever too
Hold me now, touch me now
I don’t want to live without you
Nothing’s going to change my love for you
You already know by now how much I love you
One thing you can be sure of, I’ll never ask for more than your love
Nothing’s going to change my love for you
You already know by now how much I love you
The one that changed my whole life through
But nothing’s going to change my love for you
Nothing’s gonna change my love for you
You ought to know by now how much I love you
One thing you can be sure of
I’ll never ask for more than your love
Nothing’s gonna change my love for you
You ought to know by now how much I love you
The world may change my whole life through
But nothing’s gonna change my love for you
Nothing’s gonna change my love for you
You ought to know by now how much I love you
One thing you can be sure of
I’ll never ask for more than your love
Nothing’s gonna change my love for you
You ought to know by now how much I love you
One thing you can be sure of
I’ll never ask for more than your love
Nothing’s gonna change my love for you
You ought to know by now how much I love you
The world may change my whole life through
But nothing’s gonna change my love for you
Nothing’s gonna change my love for you
You ought to know by now how much I love you
One thing you can be sure of
I’ll never ask for more than your love…
